jump to navigation

Proses Pembuatan Garam di Uganda 16 December 2010

Posted by rizqir06 in Berita. add a comment

Sabtu, 27 November 2010

Ekstraksi garam telah menjadi sumber utama perekonomian dan kemakmuran selama beberapa dekade di Uganda, tapi para penambang saat ini bekerja dalam kondisi memprihatinkan. Di masa yang baik, garam penambang di Danau Katwe di Uganda barat membuat hidup layak. Mereka mendapatkan $ 30 seminggu untuk tenaga kerja mereka, upah yang layak menurut standar Uganda. Namun produksi garam telah dengan cepat berubah dari boom untuk bust dengan musim, meninggalkan para pekerja berjuang untuk memenuhi kebutuhan, dan perubahan iklim mulai memuat dadu melawan mereka.

Pekerja ekstrak tiga produk utama dari danau: blok garam batu, kristal garam berkualitas tinggi yang dapat dijual sebagai garam meja, dan lumpur asin yang digunakan sebagai menjilati garam untuk ternak. Kondisi kerja yang mengerikan. Ekstraksi garam dari Danau Katwe dilakukan dengan tangan oleh laki-laki dan perempuan dan melibatkan berdiri pinggang atau dada jauh di dalam air selama berjam-jam pada suatu waktu. Udara yang kental dengan bau busuk yang buruk-telur hidrogen sulfida dicampur dengan amoniak. Matahari khatulistiwa ketukan di atas punggung telanjang, meninggalkan kemilau asin. Air hypersaline menghisap air dari tubuh mereka dan menanamkan dengan zat kimia beracun.

Para pekerja tahu itu mempengaruhi kesehatan mereka tetapi sering mereka tidak mampu membeli pakaian pelindung. Banyak pekerja berimprovisasi sebaik mungkin. Pria kantong plastik mengikat sekitar alat kelamin mereka atau memakai kondom dalam upaya untuk menghindari dampak desiccating ekstrim air asin, sedangkan beberapa wanita menaruh tepung di dalam vagina mereka sebagai penghalang untuk air beracun. Improvisasi strategi ini memiliki sedikit efek dan masalah kesehatan seksual merebak di pekerja Katwe.

Katwe, kawah gunung berapi diberi makan oleh beberapa sungai, memiliki outlet tidak, yang berarti bahwa penguapan intens selama musim kemarau konsentrat mineral dalam air hypersaline. Untuk mengekstrak garam, para penambang telah membangun kolam semi-permanen yang besar di sekitar tepi danau untuk mengintensifkan penguapan. Ini kolam renang, atau saltpans, diadakan bersama oleh tongkat dan lumpur.

Hasil garam dari Katwe, bagaimanapun, telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi lebih sulit diprediksi karena iklim Uganda semakin tidak menentu. Iklim ilmuwan memprediksi bahwa pola cuaca di Uganda akan beralih sebagai akibat pemanasan global. Ini akan menghasilkan terlalu banyak hujan dan penguapan tidak cukup untuk menghasilkan garam.

Sumber: http://bontangkreatif.blogspot.com/2010/11/proses-pembuatan-garam-di-uganda.html

Fadel Haramkan Impor Garam 2-3 Tahun Lagi 15 December 2010

Posted by rizqir06 in Berita. add a comment

Senin, 13 Desember 2010 11:30

Surabaya (ANTARA News) – Menteri Kelautan Fadel Muhammad mengharamkan impor garam pada 2-3 tahun lagi, karena pihaknya akan meningkatkan produksi garam secara bertahap.

“Laut kita itu terluas kedua di dunia setelah Kanada, karena itu kalau kita mengimpor garam itu memalukan,” katanya di Surabaya, Kamis. Ia mengemukakan hal itu setelah menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan (SENTA) 2010 di Grha ITS yang dimeriahkan pameran hasil produksi laut dari berbagai universitas, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta swasta.

“Tiga sentra garam di antaranya ada di Madura, Jatim, sedangkan sentra lainnya di Indramayu, Cirebon, dan NTT, tapi tahun depan akan ditingkatkan menjadi 40-an sentra garam,” katanya. Dengan peningkatan sentra garam itu, katanya, produksi garam yang selama ini 200.000 ton hingga 300.000 ton pertahun akan dapat ditingkatkan menjadi 300.000 ton hingga 400.000 ton per tahun pada tahun mendatang. “Kebutuhan kita selama ini mencapai 1,7 juta ton dengan 1,5 juta ton di antaranya impor ke India dan Australia. Itu memalukan dan tidak boleh terjadi lagi,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, pihaknya mengucurkan dana sebesar Rp96 miliar untuk meningkatkan produksi garam pada sembilan sentra pada tahun 2010 dan tahun berikutnya (2011) akan dikucurkan Rp470 miliar lebih untuk 40-an sentra. “Jangka pendeknya akan kita berdayakan masyarakat dengan pelatihan, penyuluhan, atau pendampingan, sekaligus pemberian mesin pengolah garam untuk memproduksi dan mengeringkan hasilnya,” katanya.

Di hadapan peserta seminar, Fadel Muhammad yang juga mantan Gubernur Gorontalo itu menegaskan bahwa dirinya telah mencanangkan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai produksi hasil laut terbesar di dunia pada tahun 2015. “Karena itu, kami juga mengembangkan misi mengupayakan kesejahteraan nelayan dan warga pesisir melalui berbagai program yang menyangkut kebutuhan mereka secara langsung,” katanya.

Program yang dimaksud antara lain menaikkan produksi ikan hingga 335 persen, membangun balai induk udang unggulan, BBM bersubdisi untuk nelayan, asuransi untuk nelayan, mina politan garam, mina politan tangkap, dan mina usaha pedesaan.

Fadel Bilang Impor Garam Bikin Malu Bangsa

Posted by rizqir06 in Berita. add a comment

Kamis, 09 Desember 2010, 14:58 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA–Pemenuhan kebutuhan garam nasional yang selama ini dilakukan dengan cara impor, dinilai memalukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal itu dikarenakan Indonesia negara maritim yang mempunyai banyak potensi, terlebih memiliki garis pantai terpanjang nomor empat di dunia mencapai 95.181 kilometer, setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia.

Demikian dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, usai menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk ‘Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan 2010’, di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Kamis (9/12).

“Impor garam sangat memalukan bagi bangsa Indonesia, karena potensi di Indonesia besar sekali. Tapi mengapa masih harus beli ke India dan Australia? Saya di rumah mengharamkan istri memasak pakai garam impor sebagai bentuk keprihatinan saya,” tegas Fadel.

Realitas tersebut, kata Fadel, terjadi karena kurangnya upaya pemberdayaan garam pada masyarakat. Karena itu, pihaknya pada 2010 ini telah menyiapkan dana sebesar Rp 96 miliar untuk pemberdayaan masyarakat pesisir, antara lain Jawa Timur, Cirebon, Indramayu, dan Nusa Tenggara Timur.

“Dana yang ada akan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat demi pengembangan garam di sembilan wilayah Indonesia. Khusus di Jawa Timur, cukup banyak karena untuk tiga wilayah di Pulau Madura,” jelas Fadel.

Program pemberdayaan tersebut, lanjut Fadel, akan digunakan untuk penyuluhan bagi masyarakat, dan pemberian mesin pemroses garam bagi kelompok tani garam yang konsisten dan menonjol dalam pengolahan garam. Fadel melanjutkan, produksi garam pada 2010 hanya mencapai 200 ribu ton dari kebutuhan nasional sebesar 1,7 sampai 1,8 juta ton tiap tahunnya.

“Dengan langkah di atas bila berhasil diharapkan bisa memicu perkembangan produksi garam di daerah lain, sehingga tahun depan bisa meningkat sampai 300-400 ribu ton, dan pada tahun 2015 kita bisa swasembada garam,” katanya.

Pemberdayaan usaha garam rakyat dinilai Fadel sebagai bagian dari misi pengembangan kelautan dan perikanan, yang berbasis pada Revolusi Biru (blue revolution). Revolusi Biru adalah perubahan cara berpikir yang sebelumnya terfokus pada daratan, lalu dialihkan ke laut yang memiliki banyak potensi, sehingga potensi di dalamnya bisa diefektifkan kemanfaatannya.

Untuk itu, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan, juga mendorong pemanfaatan potensi yang ada dengan memberikan dana bantuan bagi para sarjana untuk berwiraswasta di bidang kelautan dan perikanan. “Telah disiapkan paket-paket bantuan jangka pendek mulai Rp 5 juta sampai Rp 15 juta, seperti untuk budidaya rumput laut dan sebagainya. Bagi yang berhasil akan mendapat kelanjutan bantuan kredit lunak dari BNI,” jelas mantan Gubernur Gorontalo tersebut.

Fadel menghimbau bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan bantuan tersebut untuk mendaftar pada dinas kelautan dan perikanan setempat, karena selama ini masih kurang diapresiasi masyarakat. “Kami ingin agar masyarakat mengubah pola pikirnya bahwa di laut terkandung kekayaan alam luar biasa,” terangnya.

Petani Garam Madura Keluhkan Harga yang Rendah

Posted by rizqir06 in Berita. add a comment

MINGGU, 25 JULI 2010 | 15:00 WIB Petani garam. TEMPO/Dwi Narwoko

TEMPO InteraktifPAMEKASAN – Petani garam di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mengeluhkan rendahnya harga beli garam oleh pabrik. “Harganya tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah,” kata Suaidi, petani garam di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Minggu (25/7).

Menurut Suaidi, tahun 2008 lalu, Departemen Perdagangan menetapkan harga beli garam dari petani Rp 325 per kilogram untuk kwalitas 1, dan Rp 250 per kilogram untuk kwalitas 2. “Tapi sampai sekarang harga garam kwalitas 1 Rp 250 per kilogram, dan garam kwalitas 2 Rp 125 per kilogram,” ujarnya.

Dengan harga tersebut, kata Suadi, para petani tidak bisa menutupi biaya produksi garam yang mencapai Rp 300 per kilogram. Jika produksi garam lancar, petani tidak terlalu mempersolkan disparitas harga tersebut. Namun, akibat kondisi cuaca seperti saat ini, yakni hujan masih terus turun, harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi mencekik petani. “Kenapa tidak ada sanksi kepada pabrik yang tidak mematuhi ketentuan pemerintah,” tutur Suadi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pamekasan Atok Suharyanto tidak menampik harga beli garam oleh pabrik tidak sesuai ketentuan pemerintah. Namun, pihaknya tidak dapat memberikan sanksi kepada pabrik. Apalagi tata niaga garam bukan ditentukan pemerintah daerah melainkan oleh pemerintah pusat. “Kami akan upayakan agar petani bisa menikmati harga yang layak,” ucap Atok.

Mengutip ketentuan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Nomor 7 Tahun 2008, kata Atok, harga garam sebenarnya cukup layak bagi petani. Untuk garam kwalitas 1 Rp 350 per kilogram, dan kwalitas 2 Rp 250 per kilogram. Namun Atok mengakui pengawasan terhadap ketentuan tersebut lemah yang mengakibatkan kerugian bagi petani.

Atok justeru berharap agar ketentuan tentang harga garam tersebut direvisi karena dengan harga tersebut keuntungan petani masih rendah. “Karena biaya produksi petani Rp 300 ribu per kilogram, minimal harga jualnya Rp 400 per kilogram,” katanya.

Ribuan Hektar Lahan Garam Madura Tidak Bisa Produksi Garam

Posted by rizqir06 in Berita. add a comment

Written by Redaksi Seruu.Com on Thursday, 08 July 2010 13:42
Ribuan hektar lahan petani garam di Kabupaten Sampang, Madura, tidak bisa memproduksi garam. Pasalnya, meskipun sudah memasuki musim kemarau, namun curah hujan masih tetap tinggi. Dalam seminggu dua hingga tiga kali turun hujan. Akibatnya, petani garam resah karena mereka hanya mengandalkan panas terik matahari.

“Awal bulan Juli ini, seharusnya petani garam di Sampang, sudah mulai memanen garamnya, tapi saat ini, petani baru menggarap lahan, mengeraskan tanah dan memperbaiki baling- baling, untuk menarik air ke selokan lahan garam. Kondisi ini terjadi, karena meski sudah memasuki musim kemarau, curah hujan masih tinggi, sehingga produksi garam, yang mengandalkan panas terik matahari, tidak bisa dilakukan,” terang Muhyidin, ketua paguyuban petani garam Sampang Madura, Kamis (8/07/2010).

Muhyi menerangkan, tiga bulan lagi harga garam di prediksi bisa mencapai harga Rp. 400 ribu per kwintalnya, tapi meskipun di prediksi mahal sekarang petani tidak bisa menggarap tambak karena cuaca yang tidak menentu. “Ya meskipun harganya mahal petani di sini tidak bisa menggarap lahannya mau jual garam dari mana,” imbuhnya.

Sementara itu, Shodiq salah seorang petani garam asal Sampang mengatakan, bahwa petani garam saat ini resah, karena khawatir musim kemarau pendek, karena hingga dua bulan memasuki musim kemarau hujan masih sering turun. ”Apabila terjadi masa kemarau pendek, petani garam akan merana karena tidak bisa memproduksi garam dalam jumlah besar,” ungkap Shodiq, Rabu (8/07/2010).

Menurut Shodiq, garam yang masih ada saat ini adalah garam sisa musim kemarau tahun lalu yang belum dijual. biasanya garam tersebut milik pengusaha yang sengaja disimpan untuk dibuat garam halus dengan cara dicuci.

Petunjuk Teknis Sensor Conduktifitas 7 August 2010

Posted by rizqir06 in Intrumentasi. add a comment

Conduktifitas adalah ukuran kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus listrik. Instrumen conduktifitas berarti suatu alat yang mampu mengukur kemampuan suatu larutan dalam menghantarkan arus listrik antara dua buah plat konduktor yang terpisah dengan jarak tertentu.

Dengan menggunakan Hukum Ohm dimana V=i.R dan pengetahuan tentang conduktifitas (G) dimana G=1/R maka dapat ditentukan nilai conduktifitas yaitu G=i/V.

Jumlah ion konduktif dari larutan seperti garam meningkatkan konduktifitas antara dua buah sel knduktif yang digunakan sebagai sensor. Sensor sendiri berarti segala sesuatu yang dapat menangkap perubahan di lingkungan baik fisik maupun kimia lalu dikonversi menjadi besaran listrik. Semakin tinggi konsentrasi ion akan menghasilkan nilai conduktifitas yang semakin tinggi pula. Sinyal AC digunakan karena dapat mencegah ionisasi dari elektroda.

Nilai conduktifitas juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu dapat menyebabkan ion-ion bergerak lebih cepat. Nilai konduktifitas dapat meningkat 2-5% tiap kenaikan suhu 1oC.

Konduktifitas ditunjukkan dengan satuan microSiemen. Nilai konduktifitas yang tinggi ditunjukkan dengan nilai milliSiemen. Dibawah satu microSiemen, kita dapat menunjukkan nilai konduktifitas dengan satuan ohm.

1 micromho = 1 microSiemen
1.000.000 ohm = 1 megaohm.
1 / 1, 000.000 ohm adalah = microSiemen
1000 micromhos = 1000 microSiemens = 1 milliSiemen

Saat ini industri pengolahan air mengadopsi tata nama PPM untuk menunjukkan nilai konduktifitas. Mengaitkan PPM untuk microSiemens sangatlah sulit, hal ini dikarenakan sebagai air dapat membuat konsentrasi garam yang berbeda dan logam terlarut sehingga mengubah faktor konversi. Lebih baik menggunakan unit microSiemens sebagai satuan ukuran, namun jika anda perlu mengkonversi ke PPM, anda dapat menggunakan rumus berikut:

1 ppm = 1.5 microSiemen.

1 ppm (sodium chloride) ˜ 2 micro siemens (<30,000 uS).

1ppm (mixed salts) ˜ 1.5 micro siemens (<1,000 uS).

Konversi yang lebih tepat adalah:

ppm = 0.64 x conduktifitas

Konstanta sel menentukan nilai volume antara elektroda. Nilai konstanta sel (k) berbanding lurus dengan jarak yang memisahkan dua plat konduktif dan berbanding terbalik dengan luas permukaan mereka. Konstanta sel dapat dituliskan dengan persamaan K=L/a, di mana a adalah luas permukaan plat elektroda.

Jenis-Jenis Penyakit pada Karang 27 July 2010

Posted by rizqir06 in Biologi Laut. add a comment

Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidak nyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang dipengaruhinya.

Menurut Richardson L.L dan Aronson R.B. (2000), penyakit skeletal anomalies merupakan penyakit pertama kali ditemukan oleh A. Antonius pada tahun 1965. Sampai akhir tahun 1980an terdapat 5 jenis penyakit yang mkampu menyerang karang (Sutherland K.P et al. 2004). Namun penyakit tersebut terus mengalami perkembagan baik dari segi invasi maupun dari segi kerusakan yang ditimbulkannya. Pada pertengahan tahun 1990-an telah teridentifikasi 18 jenis penyakit karang. Penyakit tersebut telah menginfeksi lebih dari 150 jenis clerectina, gorgonian, dan beberapa jenis Zooxhanthella pada jenis Hidrozoa di daerah indo pasifik (Sutherland K.P et al. 2004).

Peningkatan keragaman penyakit diakibatkan oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah faktor manusia. Kenaikan suhu permukaan bumi akibat efek rumah kaca yang tidak lain merupakan ulah manusia adalah salah satu penyebabnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya terajadinya peningkatan kematian karang. Bertambahnya suhu maka akan meningkatkan metabolisme sehingga juga akan meningkat kebutuhan energi dan makanan yang pasti juga akan lebih banyak.Dengan begitu maka tingkat pedasinyapun juga akan meningkat (Jones J.R et al. 2004). Jika kenaikan suhu terus menerus terjadi maka pada suatu saat karang diprediksikan juga akan mengalami kepunahan. Oleh sebab itu perlu penanganan karang sangat penting baik dari dampak yang tidak langsung maupun dampak yang tidak langsung yakni global warming.

Pada awalnya jenis penyakit ini juga masih terbagi dalam dua jenis penyakit yakni penyakit yang disebabkan oleh faktor internal (apathogen) seperti Skeletal anomalies, Shut-down reaction, White band disease dan penyakit yang disebabkan oleh pathogen eksternal yakni bakteri Black band disease, White plaque type I.

Aspergillus sydowii sebagai patogen karang kipas di Laut Karibia

Posted by rizqir06 in Biologi Laut. add a comment

Penyakit dapat berdampak besar pada populasi dan komunitas dalam lingkungan laut tropis. Banyak penyakit yang ada laut dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, terutama perubahan suhu sehingga ada kekhawatiran tentang bagaimana penyakit akan berpengaruh bagi organisme laut jika pemanasan global terus berlanjut seperti pada saat ini.

Saat ini di perairan Laut Karibia sedang berlangsung ledakan penyakit pada karang kipas (Gorgonion) yang disebabkan oleh jamur Aspergillus sydowii. Penyakit yang bernama aspergillosis ini menyerang bagian purpling dari jaringan sehingga dapat menyebabkan kematian pada koloni karang (Smith et al., 1998). Pada tahun 1995, untuk pertama kalinya penyakit ini teridentifikasi menyerang karang jenis Gorgonia ventalina dan G. flabellum. Hal ini terjadi hampir seluruh perairan Karibia termasuk Florida (Nagelkerken et al., 1997).

Jamur Aspergillus sydowii merupakan saprobe pada tanah tanah yang mampu hidup pada linggkungan buffer. Jamur ini juga dikenal sebagai kontaminan makanan dan kadang-kadang sebagai patogen oportunistik pada manusia. Beberapa jenis Aspergillus, salah satunya Aspergillus sydowii merupakan organisme yang telah terisolasi di laut. Mereka dianggap sebagai penghuni lingkungan laut yang tidak normal. Meskipun demikian, setidaknya ada satu perbedaan mencolok antara A. sydowii yang hidup di laut dan di darat. Geiser et al. (1998) menemukan bahwa galur bersumber dari terestrial tidak patogenik bagi laut sedangkan galur yang memang sudah terisolasi di laut bersifat patogen.

Karang kipas laut memiliki senyawa antijamur sekunder yang mungkin berperan sebagai resistensi penyakit (Kim et al., 2000). Namun pertahanan dari karang kipas itu sendiri dapat menurun jika ditekankan (Ross et al., 1996). Suhu adalah salah satu faktor penekan yang sangat berpengaruh. Suhu yang tidak sesuai dapat menghancurkan hubungan simbiosis karang dengan zooxanthellae sehingga terjadi yaitu pemutihan (Brown, 1997). Mengingat toleransi suhu sebagian besar mikroba lebih besar daripada karang itu sendiri, maka peningkatan suhu air diperkirakan menyebabkan jamur untuk menjadi patogen.

Satelit Altimeter 26 July 2010

Posted by rizqir06 in SIG. 1 comment so far
Satelit altimeter pada dasarnya menentukan jarak dari satelit ke objek di permukaan bumi dengan mengukur waktu tempuh sinyal dari satelit ke permukaan bumi . Akan tetapi ini bukanlah satu-satunya informasi yang dapat diperoleh.
Ukuran dan bentuk gelombang pantul juga memberikan informasi mengenai karakteristik permukaan laut yang menyebabkan refleksi. Permukaan laut yang relatif homogen akan memberikan hasil yang lebih akurat jika dibandingkan dengan permukaan laut yang heterogen.

Altimeter memancarkan sinyal ke Bumi, dan menerima pantulannya dari permukaan laut, Ketinggian permukaan laut direpresentasikan oleh jarak satelit ke permukaan laut dan posisi satelit terhadap titik yang dijadikan sebagai titik acuan di permukaan laut (ellipsoid reference).
Beberapa lokasi memungkinkan sistem untuk menentukan posisi satelit dengan akurasi tinggi. Namun tidak semua lokasi demikian. Kita juga harus mempertimbangkan gangguan yang dialami oleh gelombang radar. Pengukuran gangguan ini dapat diestimasi dengan menggunakan pemodelan. Dengan memperhatikan gangguan-gangguan ini maka penentuan posisi satelit akan lebih akurat.

Side Scan Sonar

Posted by rizqir06 in Intrumentasi. add a comment
Side Scan Sonar merupakan salah satu teknologi hidroakustik yang digunakan untuk memetakan dasar laut dan juga dapat digunakan untuk melacak pergerakan kawanan ikan. Teknologi ini sudah cukup baik digunakan untuk mempelajari kehidupan di laut.
Sejarah side scan sonar

Teknologi Side Scan Sonar pertama kali dikembang oleh Dr. Harold Edgerton dari Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1960. Edgerton yang merupakan seorang profesor teknik elektro juga telah mengembangkan cahaya kecepatan tinggi untuk fotografi pada tahun 1930. Edgerton menyadari bahwa fotografi tidak cocok digunakan di air yang keruh, untuk itu ia menggunakan prinsip dari tabung cahaya untuk akustik. Dengan memancarkan energi suara secara cepat adan merekam kembalu pantulannya, ia dapat menciptakan suatu perangkat yang dapat memetakan dasar perairan.
Pada tahun 1963, untuk pertama kali Edgerton menggunakan Side Scan Sonar untuk mencari bangkai kapal Vineyard di Teluk Elang, Massachusetts. Dari tahun 1963 sampai 1967, tim Edgerton yang dipimpin oleh Martin Klein berhasil mengembangkan side scan sonar dengan dua chanel. Teknologi tersebut juga telah digunakan untuk membantu Alexander McKee dalam menemukan Kapal Mary Rose yang telah lama hilang.
Edgerton membuat beberapa ekspedisi si seluruh dunia menggunakan side scan sonar untuk menacarai beberapa bangkai kapal dan bahkan juga mencari monster Loch Ness. Di tahun 1975, Edgerton dan Jacques Cousteau menggunakan side scan sonar untuk mencari bangkai kapal HMHS Britannic di Laut Aegean. Britanic merupakan kapal rumah sakit Inggris yang tenggelam pada Perang Dunia I tepatnya tanggal 21 November 1916. Sekarang ini kapal tersebut merupakan situs sejarah yang paling terkenal di dunia.
Hasil dari teknologi side scan yang sebenarnya berupa gambar-gambar dalam lembaran kertas, bukanlah dalam layar komputer. Lembaran kertas ini dibuat dengan memplotkan gambaran sonar pada kertas gulung. Barulah pada tahun 1980 dimana teknologi komputer telah banyak berkembang, hasil dari side scan sonar dibuat dalam bentuk digital. Kemajuan teknologi ini mempermudah pengguna dalam menampilkan dan menyimpan data.
Sampai saat ini, side scan sonar telah banyak mengalami pengembangan. Sekarang ini side scan sonar telah dilengkapi dengan GPS sehingga dapat menentukan kedudukan suatu lokasi secara geografis. Aplikasi side scan sonar juga telah banyak dipergunakan dalam berbagai kegiatan, diantaranya kegiatan komersial, militer dan aplikasi liburan pipa lepas pantai termasuk lokasi dan survei, penegakan hukum dan operasi pemulihan pencarian, arkeologi laut, kapal karam berburu dan mencari ikan.
Cara kerja side scan sonar
Side scan sonar digunakan dengan cara menariknya di kolom perairan. Selama perjalannya, side scan sonar secara terus-menerus memancarkan pulsa akustik ke arah tegak lurus terhadap arah perjalanan. Gelombang akustik yang dipancarkan tersebut akan mengenai dasar perairan ataupun objek lain di dasar perairan dan kemudian akan dipantulkan kembali ke bagian penerima. Gelombang pantulan inilah yang kita kenal dengan backscatter. Waktu selama gelombang akustik dipancarkan sampai diterima kembali akan terus dicatat bersama dengan amplitudonya untuk diplotkan secara deret waktu yang kemudian akan dikirim ke user. Oleh user data tersebut di ditampilkan untuk kemudian diinterpretasikan. Proses ini berlangsung secara terus menerus sehingga terbentuk gambar dari dasar perairan.